[Book Review] Be Mine

Sunday, April 27, 2014

"Bukankah hidup itu harus selalu bersyukur?" (hal. 96)

Judul: Be Mine
Dengan kamu, duniaku utuh kembali...
Penulis: Sienta Sasika Novel, Monica Anggen, dan Kezia Evi Wiadji
Penerbit: Cakrawala
Tebal: 236 hlm
ISBN: 978-979-383-234-0
Harga: Rp. 39.500-
Siapa bilang cinta tidak melihat usahamu? Ia tahu kamu berada dalam usaha penaklukan, mengerti bahwa kamu tidak ingin menjadi penghuni abadi dalam dongeng. Ia juga siap memberikan kesempatan kepadamu berkali-kali, bahkan rela menjadi tempat berpulangmu yang paling manis.

Dan… siapa bilang cinta tidak butuh diungkapkan? Tiga novela ini mencoba menuturkan rahasianya…

Kisah manis yang lain dari Sienta, membuatmu tersenyum-senyum sendiri saat membayangkannya. Very sweet!
Irena Widelia (penulis Suddenly in Love dan Loving You)

Nggak bisa pause saat membaca Tink for Peter (Pan). Selain karena perilaku Tink yang lucu, aku juga penasaran banget sama si Tink, apakah dia jadian sama Bram atau Peter? Tidak ada clue yang bisa membuatku menebak. Aku suka endingnya yang manis, yang melibatkan nostalgia masa kanak-kanak.
Dian Kristiani (penulis LUPITA, Lu Pikir Gua Pengemis Cinta)

Kali ini Kezia Evi Wiadji kembali menyajikan kisah yang menyentuh hati dan menginspirasi. Cerita tentang keberanian untuk melangkah kembali dan menutup kenangan masa lalu. Lantunan manis tentang cinta kedua, kesempatan kedua, dan betapa setiap hati merindukan tempat berlabuh yang bisa disebut dengan kata ‘pulang’. Well written, sweet simple love story, Evi! Just love it.
Rina Suryakusuma  (penulis Lullaby dan Just Another Birthday)


Be Mine adalah novela yang ditulis oleh tiga penulis cantik yang masing-masing menyumbangkan satu judul untuk buku ini. Sienta Sasika Novel dengan In Love With You; Monica Anggen dengan Tink For Peter (Pan), dan Kezia Evi Wiadji dengan Second Love. Benang merah dari ketiga judul tersebut adalah... Valentine sebagai salah satu setting yang diceritakan pada masing-masing novela.

In Love With You – Sienta Sasika Novel

Adalah Bintang, seorang cowok jenius yang pintar, tampan, dan selalu menempati posisi pertama dalam urutan nilai ujian ini tidak biasanya memperhatikan papan pengumuman. Padahal, tanpa melihatnya pun, sudah bisa dipastikan namanya berada di urutan pertama dari 250-an siswa yang bersekolah di salah satu SMA di kota Bandung tersebut.

Sebagai orang yang sangat dekat dengan Bintang dibanding teman-teman lainnya, Kinan merasa terheran-heran akan tindakan yang dilakukan sahabatnya itu. Lantas, apa yang Bintang lakukan di depan papan pengumuman nilai itu? Apakah ia sedang memperhatikan seseorang? Dirinyakah? Atau orang lain?

Sienta Azadirachta, salah satu siswi yang juga sekolah di sekolah yang sama merasa tertantang dengan keputusannya sendiri seusai menyatakan perasaannya pada Bintang. Ia tidak rela jika harus disebut o’on oleh Bintang. Baginya, ia juga bisa berprestasi dalam bidang akademik, ia hanya perlu belajar lebih rajin lagi.

Namun sayang, usahanya untuk mengejar target masuk 50 besar terkendala dengan kenyataan bahwa Sienta malas jika harus menghafal rumus-rumus Fisika dan mengingat istilah-istilah Biologi, terlebih Mamanya tidak menuruti kemauan Sienta yang ingin masuk bimbel. Eeeh, malah Bintang yang jadi tentor pribadi Sienta, yang membantunya mengajari hafalan-hafalan rumus dan istilah-istilah pelajaran Ma-Fi-Ki-Bi SMA. Lambat laun, peringkat Sienta yang biasanya hanya di posisi 200-an, menjadi naik di peringkat 80 besar.

Di sisi lain, Kinan merasa ada perubahan yang terjadi pada Bintang. Bagi cewek seperti Kinan, tidak mungkin baginya harus bersaing dengan Sienta. Adakah sesuatu yang berbeda yang Bintang lihat dari Sienta? Apa yang sebenarnya diraskan Bintang? Dan, berhasilkah Sienta menempati posisi 50 besar? Kalau memang iya, akankah Bintang menerima cinta Sienta?

***


Kak Sienta dengan gaya remaja khasnya yang unik menuturkan kisah Sienta-Bintang-Kinan dengan apik. Sesuai dengan kisah remaja zaman sekarang yang dinamis, novela dengan judul In Love With You pun demikian adanya. Konflik yang mungkin cukup sering ditemui, beprestasi demi si doi, layaknya menjadi cerita yang menarik dan mudah dipahami. Dengan latar belakang SMA, dan juga selipan beberapa istilah dalam pelajaran Biologi, mengingatkanku pada buku teks pelajaran yang juga ditulis oleh Kak Sienta.

In Love With You bisa membuat aku tersenyum sendiri ketika menikmati jalan ceritanya dengan alur maju-mundur yang jelas. Walaupun beberapa kali menyebutkan Matematika, Fisika, Kimia, sepertinya Kak Sienta lebih prefer pada pelajaran Biologi, mengingat dia adalah lulusan master Bioteknologi SITH ITB, dan karena cenderung ke Biologi itulah, nilai ujian di akhir cerita yang dituliskan hanya Biologi aja, agak nggak adil. Dengan beberapa adegan dan ending menyebutkan salah satu kampus dengan lambang Ganesha-nya ini, bisa dikatakan sangat narsis mengingat nama tokoh—Sienta dan Bintang—pernah dijadikan juga nama tokoh dalam 2 novel lainnya. Dengan bab ‘Belum Ending’ di akhir novela, cukup mengejutkan dan memberikan twist yang mengesankan. Manis sekali.


Tink for Peter (Pan)

Siapa yang tidak tahu dongeng Tinkerbell atau Peter Pan? Hmm... Di novela kedua ini, menceritakan Peter, si kapten basket dari Fakultas Teknik yang sampai saat kuliah pun masih sering membawa buku cerita kesukaannya itu. Ia bermimpi bahwa dirinya adalah Peter Pan dalam dunia nyata, dan memimpikan bahwa suatu hari nanti ia pun akan menemukan Tinkerbell-nya dalam kehidupan ini. Ada juga Bram, sahabat Peter yang jagonya slam dunk ini sering kali mengejek Peter karena menurutnya Peter belum bisa ganti bacaan dari buku kesayangannya itu. Aneh sekali!

Tokoh perempuan yang diceritakan disini tidak seperti tokoh fiksi kebanyakkan, adalah Tineke, si perempuan yang memiliki postur besar, bongsor, pendek, hingga banyak yang menyebutnya ‘Si Karung Beras’. Tapi, Tineke sudah kebal dengan berbagai sebutan dan panggilan ‘kata-kata ajaib’ yang ditujukan padanya itu. Ia tetap sabar dan masih periang.

Pertemuan pertama antara Peter dan Tineke terjadi ketika suatu ‘kecelakaan’ kecil menimpa Tineke. Ia pingsan dan harus dibawa ke Ruang Kesehatan. Dan dari sanalah, Peter mengenal Tineke, begitupun sebaliknya.

Ada juga Windry, si gadis centil yang sukanya mengejar-ngejar Peter karena terobsesi menjadikan Peter sebagai kekasihnya. Mungkinkah Windry adalah Tinkerbell yang Peter cari selama ini? Lalu, kenapa Peter masih membawa buku cerita Peter Pan-nya itu? Dan bagaimana hubungan Tineke dengan Bram? Siapakah Tink yang sesungguhnya?

***


Ini adalah tulisan pertama Kak Monica yang aku baca dari sekian banyaknya karya yang telah ditulis. Cukup menarik dengan latar belakang anak kuliahan dengan segelintir cerita-cerita khas mahasiswa. Sejak awal, dari pemaparan dialog antara Peter dengan Bram terasa agak kaku dan baku (mungkin?), mengingat mereka berdua adalah mahasiswa laki-laki yang masih muda dan berteman sudah cukup lama, dan tinggal di Jakarta *asumsi bahwa remaja di Jakarta biasanya menggunakan loe-gue*.

Ceritanya bikin greget, walau sudah tahu akan seperti apa ending ceritanya. Tapi..., lebih menarik dengan selipan ‘kenangan di masa lalu’ yang menjadi jawaban cerita. Cukup lucu!

Second Love – Kezia Evi Wiadji

Bagaimana jadinya jika harus menjadi single-parent dari seorang anak berumur 5 tahun? Adalah Tiara, mama dari Mia, menjadi single-parent semenjak ditinggal meninggal oleh suaminya, Brian. Tiga tahun berlalu sepeninggal Brian, Mia masih sering menanyakan kemana papanya pergi? Suatu pertanyaan yang sering dilontarkan anak kecil ketika hanya satu orangtua yang mengasuhnya. “Papa Mia ada di surga.”

Hidup Tiara masih kalut sampai kehadiran sosok baru di hidupnya, Jimmy yang juga seorang single-parent dari seorang anak yang jadi teman Mia, Leon. Jimmy dan Tiara saling mengagumi satu sama lain semenjak pertemuan mereka di salah satu restoran gubuk pizza bertopi. Ini dikarenakan Jimmy dan Leon tidak mendapatkan tempat duduk, hingga akhirnya Tiara mencoba berbagi kursi ketika Mia memanggil Leon untuk duduk bersama.

Keesokan harinya, Jimmy menjemput Tiara dan Mia dengan alasan akan pergi berbelanja ke tempat yang sama, peduli empat, ini adalah keinginan Leon yang juga dijadikan Jimmy sebagai alasan untuk lebih dekat dengan Tiara. Selain selalu pergi bersama—Jimmy, Tiara, Mia, dan Leon—mereka juga mengadakan acara makan dengan rencana Jimmy yang akan memasak nasi goreng untuk hidangan. Tapi sayangnya, nasi goreng buatan chef Jimmy tidaklah seperti resep yang seharusnya.

Tapi, sebagai seorang single-parent, Tiara masih mengingat-ingat akan kenangan dengan almarhum suaminya. Ia tidak bisa begitu saja melupakan segala hal itu. Klimaksnya terjadi ketika mereka berempat berlibur di salah satu villa di Lembang. Tiara kehilangan cincin pernikahannya karena tak sengaja jatuh ke dalam lubang wastafel  yang tidak ada afur sink-nya, tidak ada penutupnya. Jimmy tidak peduli akan hal itu, baginya cincing itu hilang, maka kenangan Tiara dengan Brian akan ikut menghilang. Bahkan saat penjaga villa akan membantu mengusahakan setelah mencari cincin itu, Jimmy malah menyuruhnya pergi.

Tiara kesal, bagaimana mungkin Jimmy bisa berlaku demikian? Lalu, bagaimana kisah ‘hubungan’ mereka yang sudah berjalan tujuh bulan itu? Akankah mereka saling menghindar satu sama lain, hingga ‘mimpi menjadi keluarga utuh’ itu akan hancur?

***


Novela ini menjadi penutup dari Be Mine, berlatar belakang kehidupan orang-orang dewasa yang sudah berumah tangga. Kehidupan yang mempunyai masalah lebih kompleks, terlebih Tiara dan Jimmy adalah orangtua tunggal yang mempunyai pekerjaan di luar kota dan mempunyai tanggung jawab tersendiri untuk anaknya masing-masing.

Aku suka dengan penuturan yang diceritakan, menggunakan POV 1 dari sosok Tiara dan Jimmy menambah kekuatan dalam karakter masing-masing tokoh utama ini. Sayangnya, Mia sama Leon hanya jadi 'pengantar' adanya pertemuan Tiara dan Jimmy, pas akhir-akhir cerita, mereka seakan lenyap ditelan bumi :D

----

"Ini pemberian Tuhan, Bram. Sudah seharusnya kita mensyukuri apa yang sudah diberikan Tuhan pada kita." (hal. 101)

Cinta yang benar adalah cinta yang membangun dan membiarkan orang yang dicintai bertumbuh dan berkembang bersama-sama menjadi pribadi yang lebih baik. Kalau cinta dimulaii dengan kekacauan seperti ini, akan jadi apa cinta itu di hari-hari selanjutnya? Apakah ada cinta yang membuat orang yang dicintai merasa malu, kecewa, dan sakit hati? (hal. 155)

"Tidak, Tink. Lari dari masalah bukanlah cara terbaik untuk menyelesaikan masala. Kamu harus menghadapinya. Tunjukkin ke mereka kalai kamu tidak muda hancur hanya karena hinaan dan ejekan yang selalu mereka lakuin ke kamu!" (hal. 155)

Cinta haruslah ditunjukkan dalam rangkaian kata, dan juga dalam bentuk tindakan. (hal. 159)

Mencintai seseorang adalah menerima orang itu tanpa syarat, tanpa menuntut, tanpa niatan untuk mengubah orang itu sesuai dengan kemauan kita. Mencintai berarti rela berbagi, rela menerima, dan rela saling mendukung untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi di masa yang akan datang. Selamanya... (hal. 159)

Karena cinta mampu menyembuhkan, namun dibutuhkan waktu dan kesabaran untuk mewujudkannya. (hal. 228)

Dari keseluruhan, aku menikmati novela ini dengan santai. Tidak terlalu serius dan tidak membawakan cerita yang ‘berat’. Cocok digunakan sebagai buku untuk mengisi waktu luang dengan sekali duduk. Kalau boleh pilih, aku lebih suka novela In Love With You dari Kak Sienta Sasika Novel. Selain latar belakangnya yang anak SMA—karena aku anak SMA—juga karena ceritanya lebih ‘remaja’ dan cinta masa mudanya itu kerasa banget. Tidak terkecuali untuk kedua novela yang lain. Hehe... Terakhir, aku ingin memberi ★★★ untuk buku ini, untuk tiga novela ini, dan untuk tiga penulis cantik ini.

Selfie 4L@Y
@asysyifaahs


















































Wishful Wednesday #13

Wednesday, April 23, 2014

Uwooo..., post ketiga nih, Wishful Wednesday. Tadinya nggak akan post untuk minggu ini, karena nggak ada satu buku pun yang dijadikan angan-angan, uuh sombong banget sih!! Tapi, yang namanya juga mimpi, boleh aja dong ya, daripada fantasi, punya buku yang nggak mungkin ada, buku catatan amal hidup, misalnya :D

3600 Detik
Penulis : Charon
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 200 hlm
Harga : Rp. 40.000,-
Sinopsis

Sandra sangat terpukul ketika orangtuanya bercerai. Dan hatinya semakin sakit ketika ayahnya memutuskan ia harus tinggal bersama ibunya, yang selama ini tak pernah dekat dengannya. Kemarahan yang dipendam membuat Sandra menjadi remaja yang bandel. Berulang kali ia dikeluarkan dari sekolah karena kenakalannya di luar batas.

Akhirnya ibunya memutuskan untuk pindah kota. Menurut pendapatnya, suasana dan lingkungan baru akan mengubah perilaku Sandra. Tetapi, Sandra sengaja berulah lagi supaya dikeluarkan dari sekolah. Namun ia salah perkiraan. Pak Donny, wali kelasnya, dengan sabar berhasil menghadapi Sandra.

Lambat laun Sandra berubah. Orangtua maupun gurunya heran. Mereka yakin, Leon-lah yang membuat gadis itu berubah. Mereka juga bertanya-tanya kenapa Leon bisa bersahabat dengan Sandra, sementara murid-murid yang lain justru menjauhi gadis urakan itu.

Apa yang membuat Leon tertarik pada Sandra, padahal keduanya bagaikan langit dan bumi?

Selain 3600 DETIK yang sudah dicetak ulang puluhan kali, Charon juga menulis novel laris 7 Hari Menembus Waktu, 1000 Musim Mengejar Bintang, dan Trio Weirdo.

Maksain pilih teenlit 3600 Detik ini, cuma buat ngisi WW, ah nggak juga sih... siapa tau aku bisa punya sebelum nonton filmnya. Tapi... aku nggak begitu tertarik sih sama teenlit-teenlit gini, tidak tidak, bukan karena ceritanya yang kadang menye-menye, tapi sejak dulu aku sih mending pilih YA daripada teenlit, romance dari kategori Young-Adult ceritanya lebih realistis, menurutku. Apalagi cover teenlit selalu terlihat sangat-amat-unyu, dan aku cukup menghindari itu *piss*.

Tapi, setelah baca review buku (+filmnya juga), [katanya] konfliknya cukup menarik, keluarga dan persahabatan. Apalagi, 3600 Detik ini udah berulang kali cetak ulang dengan 3 kali beda cover, wiiisssh keren heh!! Semoga kesampaian dua-duanya deh, dapat teenlitnya, sekaligus nonton filmnya (atau nunggu turun layar juga nggak papa, nonton di tv atau gratisan dari ganool.com juga nggak papa, hehe, hemat beb hemat!)


Yuk, share juga angan-anganmu minggu ini :D
1. Silahkan follow blog Books To Share –atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kalian ya!
3. Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
4. Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =) 


Scene on Three #2

Setelah tadi melayangkan post untuk meme Dare To Say, sekarang lanjut ke Scene on Three, karena berhubung hari ini tanggal 23 April. Nggak jauh beda sama Dare To Say tadi, buku yang akan dibahas di Scene on Three kali ini masih sama, Kei dari Erni Aladjai. Kalau kamu baca DTS sih, pasti tau alasannya kenapa :D

Elaar, Kei Kecil, Maret, 1999
Namira melepas mukenanya. Bekas air wudu membayang di wajahnya. Gadis itu menyampirkan sajadah dan mukenanya dengan terburu-buru pada seutas tali nilon yang membentang dari daun pintu hingga sudut jendela kamarnya. Dia baru saja mengelarkan sembahyang sore. Wajahnya riang dan merona, serona tomat mengkal.

Namira menyukai semua hal di Elaar. Baginya, pulau kecil itu adalah surga. Gunung, pantai pasir putih yang membentang. Suara ombak pecah. Karang. Perahu-perahu. Cahaya bulan purnama di atas permukaan laut. Tiupan kerang di malam-malam yang magis, semua itu bagai suara dengung sayap peri.

Elaar adalah sebuah pulau di pantai timur selatan Kei Kecil. Kepulauan yang terbentuk karena koral yang terangkat ke permukaan laut. Bagi Namira, Elaar adalah perkampungan peri yang tersembunyi. Surga yang sulit dijangkau turis-turis kota besar, sebab perjalan ke Kei adalah perjalanan panjang. Turis-turis yang pernah ke sana dan menikmati bentang Pantai Kei akan berkata; Kei lebih jauh dari jarak lurus London-Moscow.

Sebenarnya, ketiga paragraf ini bertuturan di halaman 10-11, cuma aku rasa dari tiga paragraf itu, ada 2 scene yang menurutku bisa berbeda hal. Scene pertama, ketika terhenti di kalimat, "menyampirkan sajadah dan mukenanya dengan terburu-buru pada seutas tali nilon yang membentang dari daun pintu hingga sudut jendela kamarnya" seperti mengingatkan ketika waktu kecil.

Biasanya ini terjadi di bulan Ramadhan, waktu masih kecil, nggak akan pergi shalat tarawih ke masjid yang jauh dari rumah (padahal jaraknya cuma 100 meteran), cukup melangkah ke mushala nenek yang berjarak dua rumah dari rumah sendiri. Yang namanya mushala, pasti ukurannya lebih kecil dari masjid, malah menurutku ini lebih kecil dari kamarku sekarang. Mushala atau aku biasa menyebutnya 'tajug', berukuran 3x2 meter, tapi entah kenapa cukup untuk shalat berjamaah 7-12 orang.

Tajugnya dibuat dari bilik, dan sampai sekarang pun masih dengan bilik, konsepnya juga masih amat-sangat-sederhana, semacam rumah panggung gitu. Dan dari scene itu juga, jadi ingat kalau dulu, setelah selesai shalat, sering menggantung mukena di tali itu. Pikirnya sih, biar besok kalau mau shalat, nggak usah bawa dari rumah, kan udah ada di tajug. Heheh..

Scene yang kedua, ini seperti mengenalkanku pada Elaar juga. Menurutku, nama-nama daerah di Indonesia itu unik, ada khas tersendiri. Nggak mungkin dong ada nama daerah 'Bongas' di pelosok lainnya? Cuma ada di Jawa Barat, dan tepatnya itu cuma ada di desaku :P Begitu juga dengan Elaar, sebelum baca ini-atau bahkan sebelum baca review Kei dari Kak Nana-, aku sama sekali nggak tau Kei, malah ngira kalau itu nama tokoh dari novel ini. Apalagi Elaar, itu apa sih?

Sumber disini
Kei adalah kepulauan yang letaknya terhimpit oleh laut Banda dan Papua. Kei memiliki pantai yang luar biasa indah, seperti foto di atas. Jadi pengin rebahan di atas pasir yang putih sambil menatap laut yang jernih.

Lalu, ada juga adat Maluku bernama Sasi Laut yang melarang penduduk untuk mengambil sumber daya laut dalam jangka waktu tertentu. Jika dilanggar, maka sanksinya berat, hingga dapat membuat keluarga malu.

Untuk lebih tahu lebih lanjut tentang sasi Laut, bisa dibaca di sini.

Kerusuhan di Maluku tahun 1999-2002 menyisakan trauma yang berkepanjangan bagi warganya. Pertikaian antar agama yang sebelumnya tidak pernah terjadi menjadi senjata bagi oknum tertentu untuk memecah-belah kerukunan warga Maluku.

Sumber disini
Para pengungsi dari Maluku banyak juga yang lari ke Jakarta, dan menjadi preman. Banyak bos dunia hitam yang berasal dari daerah Maluku dan memiliki ‘usaha penyedia jasa keamanan’ yang terorganisir dan berjalan secara underground.

Yang ingin tahu sepak terjang preman di Jakarta, bisa klik di sini.

Novel Kei berbicara tentang fakta yang difiksikan. Banyak fakta sejarah berbau politik yang mewarnai novel ini.

Hal yang sama pernah berlaku ketika Kak Yon ngasih aku cerita tentang Samalona. Aku pikir itu nama apa, eh taunya nama salah satu pantai di Sulawesi. Lain kali, bisa mungkin ya berubah jadi seorang petualang, nggak melulu di rumah, biar -seenggaknya- tau nama-nama asing yang padahal orang lain udah tau :D

Dan, scene apa yang menarikmu tanggal 23 ini?
1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya dari buku pilihan kalian ke dalam suatu post.
2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three. 
5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).
 
 

Dare To Say #3

23 April, uyeaaah, ada 3 meme yang akan dikerjakan hari ini. Ibaratnya sih, dikasih tugas 3 mata pelajaran yang harus diselesaikan satu hari, haha, sanggup nggak ya? Kalau nggak sanggup, ya shanggupin *kemudian joget shikat miring*.

Abaikan kalimat pembuka tadi, dan memang sih hari Rabu, tanggal 23 April ini aku bakal post serentak 3 tulisan untuk blog ini (+1 postingan untuk blog sebelah). Ada meme weekly Wishful Wednesday, meme monthly Dare To Say, dan juga meme thirdly Scene on Three.

Jumpa lagi di Dare to Say ketiga di blog baru ini. Hurraayyy ^^ Padahal hampir sebulan ini aku nggak baca buku sama sekali, hanya baca sekilas, kemudian tinggalkan, karena memang kesibukan tugas mulai mendera kembali :P

Di balik itu semua, demi Dare to Say kali ini, aku maksain baca buku (walau belum selesai) padahal hari ini ada ulangan B. Indonesia :D Gkgkgk...

Kei dari Erni Aladjai


Rate awal : 1

Kejam banget, dan untuk pertama kalinya aku kasih hipotesis awal yang cukup kurang baik untuk buku terbitan GagasMedia yang satu ini. Kenapa demikian? Pertama, aku tau menilai buku nggak boleh dari covernya, tapi aku lebih tau kalau cover buku-buku GagasMedia selalu lebih kece, cuma sayang... untuk buku ini, entah kenapa pas beberapa kali lihat, kurang suka *ditimpuk Kak Dwi, ilustratornya*. Hitam di atas putih.

Kedua, lagi-lagi pasti romance. Dan saat untuk pertama kalinya-saat itu-aku lagi nggak mood baca romance, nggak tau sih ya kenapa. Dan ketiga, alasan yang bener-bener sotoy dan menipu banget, pasti Kei itu nama tokohnya *jeddar, dilempar penulisnya*.

Rate akhir : 4,5

Itu meningkat ya, walau nggak sempurna ke 5, karena masalah genre yang lebih kepada his-fic. Semua berubah semenjak negara api menyerang karena ternyata pandangan aku mulai berbeda setelah benar-benar baca ceritanya. Kei itu historical-fiction, ada konflik yang teramat jadi 'fokus' dari buku ini, konflik perang di Maluku. Cerita di baliknya juga dituturkan dengan baik oleh Kak Erni, dan nggak melulu soal cinta-cintaan, walau nggak bisa dipungkiri memang ada kisah demikian.


Aku dapat buku ini dari Kak Nana @ Glasses and Tea, dan tiba Selasa kemarin, jadinya belum tamat baca semua sih, cuma udah setengah jalan, aku lumayan paham sama ceritanya. Gimana ya kalau udah khatam penuh, mungkin bisa jadi aku kasih 5 bintang. Hehe..

Nah, selesai, kamu mau ikutan juga meme yang satu ini? Syaratnya mudah kok, nih!
  • Follow Me:Book admirer atau tambahkan di blogroll kamu. Bisa juga follow lewat email 
  • Buat posting tentang buku yang tidak sesuai dugaan, harapan, rating GR, rekomendasi teman, baik lebih bagus atau lebih jelek. Kasih tau apa yang awalnya kamu harapkan (rating awal) dan apa yang kamu dapatkan (rating akhir). Underrated or overrated?  
  • Oh ya, boleh juga kok kalau kamu mau share pengalaman kamu tentang komentar yang muncul soal buku yang udah kamu baca/review. Banyak yang menganggap kamu menilai suatu buku terlalu rendah/tinggi? Silahkan sampaikan pembelaanmu dengan baik.
  • Masukkan link postingan kamu ke Mr. Linky yang akan disediakan oleh saya. Tambahkan button ‘Dare to Say’ juga di postinganmu, ya  
  • Penasaran pengen baca pengakuan para pembaca buku, kan? Nantinya, rajin-rajin ya, berkunjung ke sesama peserta! 

Link of The Week #6

Sunday, April 20, 2014

Hampir menyerah untuk meme LOTW di minggu ini, pasalnya aku belum nemu tautan kece yang membahas buku, kebanyakkan yang ditemukan malah artikel yang berkaitan sama buku. Jelas beda kan? Soalnya tujuan Link of The Week kan buat memperbarui wishlist, bukan nemuin artikel. Tapi... pas aku tengok lagi postingan LOTW Kak Ira sebelumnya, ternyata dia juga pernah bahas yang non-buku kok, jadi nggak salah kan kalau kali ini tautan yang aku pilih. Janji, cuma minggu ini aja. Heheh...


Klik untuk memperbesar

Bookshelf - J. Cinere Raya No 43/M, Depok

Plis, ini kali kedua aku nemu kafe buku yang ciamik pisan lah. Dan kenapa sih dua-duanya ada di daerah Jabodetabek sana? Huft... Setelah waktu itu denger nama Reading Room di daerah Kemang dari sebuah acara di stasiun tv, kali ini giliran Bookshelf yang aku temukan dari website Pemadam Kelaparan-nya Nyunyu.com. Setelah baca artikelnya, sebenarnya Bookshelf sama Reading Room punya konsep yang sama, sama-sama kafe yang jadi tempat baca buku dengan koleksi buku-bukunya, apalagi ada tempat nonton juga. Ya kan ya kan, ngiler kan pengen kesana juga?

Apalagi harga makanan-makanannya pas banget sama kantong pelajar, berkisar dari 5000 - 25000-an aja. Kalaupun mau sama nonton, bisa banget dengan bayar Rp. 85.000,- buat rame-rame. Hih, ngiri sama yang udah kesana. Terus juga, katanya sih, kita bisa baca buku yang belum atau bahkan nggak ada di Indonesia, tuh kurang ngiler gimana coba?

Tapi, setelah baru saja browsing lagi, sebenarnya Bandung juga punya kafe buku, lho. Cuma mungkin akunya aja yang nggak gawl, nih beberapa diantaranya...

Potluck Coffee Bar & Library - Jl. H. Wasid No. 31, Bandung
ZOE Cafe and Library -  Jl. Pager Gunung No. 3, Dipati Ukur, Bandung
Kafe Kupu-Kupu - Jl. Kolonel Masturi KM 3, Cimahi (deket rumah Galuh, dong)
Nanny’s Pavillon Garden - Jl. R.E. Martadinata No. 112, Bandung
Reading Room - Jl. Kemang Timur Raya No 57, Jakarta
Dan itulah untuk Link of The Week minggu ini, sekaligus referensi tempat yang cocok buat kamu yang suka baca buku :D
1. Buat post mengenai satu atau lebih link pilihanmu yang tentu saja harus berkaitan dengan BUKU (˘▿˘)ง
2. Sertakan alasan mengapa kalian memilih link tersebut.
3. Cantumkan button Link of The Week di post kalian ya.
4. Tinggalkan link post kalian di links tool di blog Kak Ira.
5. Meme ini diadakan setiap weekend.
6. Mari berkunjung ke sesama blogger yang sudah share link pilihannya.
7. Semoga kita bisa menambah koleksi link tentang buku keren yang harus di bookmark (‘▽’ʃƪ) ♥ 
 

[Book Review] Dream Catcher by Alanda Kariza

Friday, April 18, 2014

"Dreams are invented. We are not born with them." (hal. 5)

Judul: Dream Catcher
Penulis: Alanda Kariza
Penerbit: GagasMedia
Tebal: 217 hlm
ISBN: 978-979-780-537-1
Harga: Rp. 50.000,-

Dreams are necessary to life.—Anais Nin
  
Mimpi itu kebutuhan. Layaknya udara, tanpa disadari, aku, kamu, dan kita semua membutuhkan mimpi. Mimpilah yang menuntun kita atas apa yang kita kerjakan saat ini karena hari ini adalah jawaban atas mimpi kita tempo hari.  

Dream Catcher memberikan gambaran tentang bagaimana merancang mimpi. Inilah rancangan hidup yang kita coba reka sendiri. Alanda Kariza berbagi hal-hal yang bisa kita lakukan untuk menciptakan mimpi dan meraihnya sejak dini. Memanfaatkan kekurangan, meningkatkan produktivitas, dan berbagi dengan orang lain adalah beberapa di antaranya.  

Buku ini dilengkapi lembar aktivitas untuk mencatat hal-hal yang ingin kita capai. Tak ketinggalan, ada pula profil para sosok muda yang sukses mewujudkan impian.   

So, live your dreams. Hidup yang dipenuhi mimpi akan banyak bercerita tentang masa depan.

Dream Catcher, buah karya Alanda Kariza ini termasuk buku dengan jenis nonfiksi - pengembangan diri. Agak berbeda dengan koleksi-koleksi aku yang cenderung ke jenis fiksi, tapi life begins at the end of your comfort zone, right? Dan benar saja, Dream Catcher adalah mimpi baru bagiku.
Being young is a privilege. (hal. 35)

Menurutku, buku ini semacam diary dari Kak Alanda. Bagaimana tidak, karena hampir seluruh bagiannya mengambil secuil cerita yang dialami penulisnya sendiri. Ini memberi kesan tersendiri, dan khususnya bagi aku, aku menganggap ini semacam 'bukti' di balik tulisan-tulisan tersebut.
Passion makes you happy. Therefore, pursuing your passion will also make you happy. (hal. 14)

Dalam buku ini juga, terdapat beberapa halaman yang sengaja dikhususkan sebagai tempat menulis mimpi dari para pembacanya, yang aku ingat salah satunya adalah My So-Fun-To-Do Bucket List, lembar yang bisa kita tulis hal-hal yang kita senangi. Sayangnya, semenjak memiliki buku ini beberapa bulan yang lalu, aku belum menuliskan apapun di lembar-lembar itu, entah karena terlalu sayang atau terlalu bingung dengan banyaknya mimpi :D



Fantasies are not dreams. (hal. 22)

Selain itu, disajikan juga wawancara dengan teman-teman terdekat Kak Alanda, dua yang aku ingat adalah cerita dengan Kak Aishanatasha Adisasmita dan Kak Annisa Amalia (Abazh). Dua orang yang ikut menggagas terbentuknya TCFT, The Cure For Tomorrow.

We can do something if we want it bad enough. (hal. 27)

Jika kamu mencari buku self-help yang mengasyikan, maka aku akan merekomendasikan Dream Catcher untuk kamu baca. Tidak seperti buku pengembangan diri kebanyakkan, Dream Catcher memiliki 'kesan' tersendiri yang sampai saat ini masih membekas #tsaaah. Selain dari layout-nya yang mendukung, cover yang ciamik, dan desainnya yang unik --walau warna kuning dominan disini--, tapi... bukan masalah itu, lebih kepada 'materi cerita' yang ditulis di buku ini sangat mengasyikkan, santai, dan mudah dipahami.

Well, ★★★★★ for this book :D Dan sekali lagi, ada banyak kalimat favorit dalam buku ini, bahkan mungkin semuanya adalah favorit. Sayang, memo yang aku tulis untuk menyimpan nomor halamannya hilang, tapi... percayalah, buku ini punya kekuatan yang benar-benar menginspirasi untuk kamu.

Udah mirip belum gayanya? xD

Wishful Wednesday #12

Wednesday, April 16, 2014

Aloha, kali ini ikutan Wishful Wednesday, bedanya... udah pindah ke blog baru dong, xoxo... Hehe, sekarang ada blog khusus memuat buku-buku, biar blog pribadi lebih intens memuat tentang pribadi :D Oke, langsung saja, wish minggu ini adalah...

Oppa Oppa
Penulis : Annisa Steviani
Penerbit : GagasMedia
Tebal : 216 hlm
Harga : Rp. 43.000,-

Sinopsis
 

Yap, Oppa Oppa baru rilis April ini. Pertama tahu dari #GiveWeek di akun @GagasAddictInd yang pas bikin giveaway mingguan dengan hadiah yang satu ini. Aniya... aku bukan suka karena sekarang jadi K-Popers, lebih karena Kim Soo-Hyun sih, eh itu di covernya ada dia nggak ya? Ahaha... Atau mungkin di ceritanya juga.

Ah, pokoknya keren deh, dari reporter sekaligus K-Popers juga, Kak Ica punya kesempatan bagus kayak gini. By the way, Kim Soo-Hyun, 25 April mendatang bakal ke Indonesia, ntar kalau udah punya buku ini, minta tanda tangan dia aja :D Hehe...

Sekalian nunggu Kim Soo-Hyun, ikutan Wishful Wednesday juga yuk ;)
1. Silahkan follow blog Books To Share –atau tambahkan di blogroll/link blogmu =) 
2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kalian ya! 3. Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian. 4. Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

[Book Review] 7 Misi Rahasia Sophie by Aditia Yudis

Tuesday, April 15, 2014

“Gue bukan stalker!” Gue pengamat! Tolong bedain ya!” (hal. 4)

Judul: 7 Misi Rahasia Sophie
Penulis: Aditia Yudis
Penerbit: GagasMedia
Tebal: iv + 212 hlm
ISBN: 979-780-690-1
Harga: Rp39.000,-

Blurb...
Ini adalah cerita Marko, cowok broken home yang sedang membenci dunia.

MARKO: 
Gue nggak pernah ngerti sama orang-orang yang eksis di sosial, apalagi yang sampai posting-posting video di YouTube. Buat gue, mereka itu egois dan narsis, cuma mentingin tampang. Masalahnya, Sophie malah nyuruh gue videoin dia buat misi-misi rahasia apaan lah di YouTube. Terus, gue mesti gimana?

Serta sahabatnya, Sophie, gadis cerita yang menyimpan sebuah rahasia besar dan mengemban tujuh misi.  
SOPHIE: 
Marko sering banget bilang kalau orang-orang di dunia maya itu egois. Padahal, dia sendiri suka lupa mikirin orang lain. Makanya, gue mau bikin 7 Misi Rahasia Sophie! Gue pengin buktiin ke dia, kalau YouTube bisa di pake buat nolong mereka yang ngebutuhin. Gue juga pengin dia sabar, kalau di dunia ini, ada orang lain yang nggak seberuntung dia. Wish me luck, guys!

Tujuh misi, dua sahabat, dan sebuah rahasia.

Thoughts...
Dapat buku ini secara beli, agak tumben karena biasanya dapat buntelan haratis. Hahah... Well, daripada ngikut kuisnya mulu tapi nggak dapet, ya udahlah beli aja :P Bacanya cuma sehari, asyik banget karena sembunyi-sembunyi juga pas pelajaran Biologi *eh ketauan*. 

Rahasia tidak lagi menjadi rahasia ketika sudah diceritakan ke khalayak, kan? (hal. 16)

Cerita 7 Misi Rahasia Sophie ini penuh dengan latar yang dekat banget sama kehidupan manusia zaman sekarang, social media. Lebih tepatnya sih YouTube, jejaring sosial dimana setiap orang bisa dengan mudahnya akses media dalam bentuk video.

Sophie, orangnya baik dan periang banget, ceria, dan kayaknya sepanjang hidupnya hanya dipenuhi dengan tawa. Andai kalau benar-benar ada orang kayak gini, beruntung ya... Marko (bukan Komar, karena Komar bukan nama sebenarnya, dan bukan sebenarnya nama), seorang cowok yang cuek, addicted banget sama handycam dan laptopnya, sahabat Sophie. Namun, walau kelihatannya Marko cuek, dia bisa dengan gampangnya tunduk dan patuh pada perintah Sophie, cowok emang gitu!

Latar yang diceritakan adalah bahwa mereka tuh anak SMA, mungkin kelas tiga. Tapi, cerita lebih banyak terjadi di rooftop, tower, apartemen, dan tempat di sekitarnya. Eits, walau setting-nya di Jakarta, Bandung juga tetep eksis kok :P
Please deh, Livia. Taunya cuma Dago dan Ciwalk aja sih. Fashion itu bukan masalah tren. Tapi confident. Kita yang bikin apa yang kita pakai itu jadi fashion. Bukan fashion yang bikin kita jadi fashionable. Unique is a heart of fashions. Not just a part of it.” (hal.173)

“Lo tau, semua orang yang posting-posting video itu, cuma punya dua kemungkinan; Pertama, mereka nggak ada kerjaan. Kedua, mereka bener-bener megalomania. Satu tingkat di atas narsis. Dan dalam pikiran mereka cuma..., ...is all about me,” (hal. 18)
Untungnya aku (belum) punya akun YouTube, karena emang nggak mau aja, udah kebanyakkan sama media sosial yang udah bikin ‘perut kenyang’. Banyak sih akun di media sosial lain, cuma nganggur karena temennya itu-itu aja, atau bahkan nggak ada temen sama sekali, percuma! Lagian, buat apa sih punya banyak akun, kalaupun yang kita kenal itu lagi-itu lagi, ya sama aja kayak lo berinteraksi sama temen-temen sekelas lo, cuma lingkupnya lagi di dunia maya, bukan dunia nyata.

Dahulu kala, hanya keluarga kerajaan yang tinggal di kastel. Sekarang, banyak yang tinggal di menara-menara menjulang tinggi. Menara yang dingin, lorongnya sepi, dan orang-orang yang ngerasa asing satu sama lain. Orang-orang mulai beralih ke dunia maya. Social media jadi begitu penting. Karena mereka ngerasain kehangatan respons, dari orang yang mungkin nggak mereka kenal. Dan makin lama, dunia ini berasa makin kecil. Seakan nggak ada batas. Kita bisa ngeliat apa aja dalam layar ajaib. Kita bisa berbagi apa aja. Kita bisa jadi apa aja. Imitasi. Nggak peduli dan kita nggak punya lagi rahasia.

Nah, kesukaan mereka sama jejaring sosial YouTube pun dimanfaatkan Sophie untuk bikin 7 Misi Rahasia Sophie. “Kenapa tujuh bukan delapan?” | “Rahasia, Komaaarrr! Rahasia!” (hal. 179) Disini, ada 7 Misi yang dijalankan Sophie dan Marko. Mau tahu apa aja? Ah masa harus dikasih tahu sih... nggak seru lagi dong xP Eits, sebenarnya Sophie juga orang yang penuh kejutan, di balik angka 7, misi rahasianya, sebenarnya tersimpan sesuatu yang jadi rahasia banget. WAJIB BACA! 

Ada orang-orang yang ingin tinggal tetapi malah diminta untuk pergi. (hal. 72)
Tidak ada yang tahu berapa lama seseorang akan tinggal. Tidak ada yang tahu seberapa berharga seseorang sampai dia pergi. (hal. 85)

Jujur, ngerasa WOW banget kalau sebelumnya bukunya bakal biasa aja, yaa... Kak Aditya keren deh bisa ngikutin Sophie yang juga penuh kejutan (atau Sophie yang ngikutin Kak Aditya dengan kejutannya), nggak nyangka endingnya punya sesuatu yang bikin #HACEP banget, pokoknya kamu juga nggak bakal percaya, kalau bisa sih baca bukunya dulu, baru filmnya. Mengenai film, aku belum nonton nih karena emang udah nggak ada di bioskop, tapi tonton trailernya saja ya :D



Kalau harapan bisa dilihat, seperti itulah nyalanya. (hal. 40)

And the last but not least, seperti biasa, selalu ada kalimat menarik yang wajib dikenang, dan kerennya ini GUE BANGET #DUNIAHARUSTAU. Nih!
1. “Pancaran sinar mata tuh bukan satu-satunya indikasi seseorang tuh suka atau nggak.” (hal. 45)
2. “Di sekolah ini ada dua spesies yang paling dominan. Anak mal dan anak perpus. Anak perpus sangat nyaman dengan habitatnya. Tapi jangan salah, mereka juga menikmati hangout ke mal. Tapi anak mal hanya di mal mereka merasa eksis. Tapi di luar habitatnya, mereka sering mati kutu. Dan asal tau aja, semua juga bisa nikmatin ke mal. So, who’s the really somekind of aliens people? You’ll know the answer is...” (hal. 65)
3. “Cewek tuh punya intuisi. Bahkan bisa ngeliat cewek lain suka atau nggak sama cowok.” (hal. 76)
4. “Berarti cewek tahu dong, kalau ada cowok yang suka sama dia. Walau tuh cowok nggak pernah ngomong?” (hal. 76)
5. Kalau alam dengan mudah memberi pertanda, mungkin tak perlu saling bicara ketika mengungkapkan rasa cinta. Namun, itu hampir mustahil, kan? Hampir semua perempuan ingin diakui. (hal. 77)
6. “Mimpi harus dikejar.” (hal. 92)
7. “Anak kecil itu makhluk kedua, setelah cewek yang bikin bingung cowok. Nggak tahu maunya apa. Dan sama-sama annoying,” (hal. 121)
8. Ketidakberdayaan itu yang merangkai semua masalah ini. Orang-orang seharusnya memang tidak perlu memedulikannya. (hal.166)
9. “... Nenek pernah cerita kalau seseorang meninggal dia bakal jadi bintang.” (hal. 172)
10. Bintang-bintang itu baginya adalah harapan, sekaligus teman. (hal. 172)
11. Bintang-bintang itu terlalu tinggi, tetapi mereka menyapanya dengan cahaya. (hal. 173)
12. “Love can’t wait.” (hal. 177)
13. Cinta tak bisa menunggu, begitu juga waktu. (hal. 179)
14. Semua tak pernah sama. (hal. 181)
15. Pas gue bilang, pada jam, menit dan detik yang sama, belum tentu orang yang terjebak macet di bawah sana adalah orang yang sama. (hal. 203)

Dan menariknya... “Kenapa sih kita harus belajar fisika?” “Maksud gue, kan setiap orang bakatnya beda-beda. Ada yang lemah di fisika, ada yang lemah di matematika. Tapi mungkin dia bagus di bahasa, hmm... bagus di gambar. Kenapa nggak difokusin sesuai bakat aja sih,” (hal. 197)

Iya, kenapa kita harus belajar Fisika, kalau Fisika nggak bikin kita masuk surga *eh sesat banget sih gue*. Pokoknya, ★★★★★ buat 7 Misi Rahasia Sophie :D

Ini hasil penelusuran mengenai poster film. Enjoy!

[Book Review] Ai by Winna Efendi

Jatuh cinta untuk pertama kalinya sangat aneh, perasaan yang kuat, semacam energi yang mampu memberikan kita keberanian untuk berbuat apa saja. (hal. 216)

Judul: Ai
Penulis: Winna Efendi
Penerbit: GagasMedia, 2013 (Cetakan ke-9)
Tebal: 288 hlm ISBN:979-780-307-4
Harga: Rp41.500,-

Blurb...
Cinta seperti sesuatu yang mengendap-endap di belakangmu. Suatu saat, tiba-tiba kau baru sadar, cinta menyergapmu tanpa peringatan.
SEI
Aku mencintai Ai. Tidak tahu sejak kapan mungkin sejak pertama kali dia menggenggam tanganku aku tidak tahu mengapa, dan aku tidak tahu bagaimana. Aku hanya mencintainya, dengan caraku sendiri.
AI
Aku bersahabat dengan Sei sejak kami masih sangat kecil. Saat mulai tumbuh remaja, gadis-gadis mulai mengejarnya. Entah bagaimana aku pun jatuh cinta padanya, tetapi aku memilih untuk menyimpannya. Lalu, datang Shin ke dalam lingkaran persahabatan kami. Dia membuatku jatuh cinta dan merasa dicintai.
 
Thoughts...
Baca Ai ini sebenarnya sudah sejak lama, sekitar satu bulan yang lalu kalau nggak salah. Maafkan, soalnya pas selesai baca nggak langsung bikin resensi, bukunya malah disembunyikan Mamah xD Ini kedua kalinya baca buku Winna Efendi, yang Refrain udah aku buat resensinya belum ya? :/ Aku dapat bukunya dari Gita, sebagai ganti hadiah presentasi itu, covernya lebih unyu dari cetakan sebelumnya, warna pink menggelora.

Ada dua sudut pandang yang ditulis dalam buku ini, Sei dan Ai. Awalnya, ragu untuk bisa memposisikan diri membaca dari sudut pandang Sei di awal cerita, karena terlalu biasa membaca dari segi seorang perempuan. Tapi... ternyata asyik juga, setidaknya begitu, bisa memahami perasaan seorang laki-laki ketika menghadapi perempuan. Akhirnya aku tau!

“Menangislah sampai puas. Aku akan meminjamkan bahuku hingga kau merasa lega.” (hal. 180)

Diawali dari cerita Sei dan Ai yang mengenal satu sama lain sejak kecil, sepasang sahabat yang dipertemukan karena nasib. Apalagi, saat membaca bagian ketika hamster Sei mati, lucu sekali ketika membayangkan dua orang anak kecil memperhatikan binatang sebesar tikus itu, lalu menguburkannya. Hohoh... Kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Selalu ada sesuatu yang hilang dari kehidupan kami... (hal. 202)
Banyak orang menganggap mereka seperti kakak-adik. Namun, di balik perbedaan umur mereka yang hanya terpaut satu tahun, lucu sekaligus absurd juga kalau menjadikan Ai sebagai kakak perempuan dan Sei sebagai adik laki-laki. Tidak semudah itu merumuskan hubungan mereka. Walaupun Ai terkadang berlagak dewasa dan bertindak seperti kakak yang menyuruh-nyuruh adiknya, banyak kejadian saat Sei yang berlaku sebagai kakak, menyayangi dan melindunginya. Mungkin itu karena Sei laki-laki dan Ai perempuan. Ai yang ceroboh, Ai yang kadang menangis jika terjatuh, Ai yang selalu lupa mengerjakan pekerjaan rumahnya. Ai yang memberontak dan dimarahi ayahnya, Ai yang jatuh cinta pada pemuda sekelasnya, lalu patah hati. Di saat-saat seperti itulah, Ai membutuhkan Sei, dan Sei perlu menjaganya layaknya seorang kakak, sekaligus seorang teman. Orangtua mereka menganggap mereka berdua memiliki hubungan kompleks yang unik. Bahkan, Sei tidak sedekat itu pada kakak perempuannya, Risa, yang tiga tahun lebih tua darinya. Sei sendiri tidak tahu bagaimana menjelaskan hubungan mereka. Sei membutuhkan Ai, sama seperti Ai membutuhkannya. Mereka tidak terpisahkan dan Sei kira mereka akan selamanya begini.
Setiap orang yang pernah hadir dalam hidup kita akan selalu meninggalkan jejak. (hal. 202) “Suatu saat nanti, kau pasti akan jatuh cinta pada seseorang. Dan, ketika saat itu tiba, jika laki-laki itu melukaimu, aku akan menghajarnya.” (hal. 220)

Ai dan Sei bersahabat, dan selalu melakukan banyak hal secara bersama-sama, dan... datanglah Shin dari Tokyo yang menambah serunya jalan cerita. Ada banyak hal tentang Shin yang selalu membuat Ai dan Sei tertarik, cerita Shin mengenai kebiasaan orang-orang di Tokyo, gedung-gedung pencakar langit, shinkansen yang selalu padat, hingga hal-hal yang dapat membuat keduanya terkejut, robot Aibo, laptop Shin, dan cerita mengenai Ouija Board. Pernah mendengarnya? Aku juga pertama kali tahu dari buku ini :D

http://www.gadis.co.id/gaul/ngobrol/jangan.mainmain.dengan.ouija.board/001/007/285

Nuansa Jepang-nya kerasa banget, ada pengetahuan juga yang bisa kita ambil, tentang teru-terubozu si boneka kain untuk menangkal hujan, Hanami, Yozakura, dan lainnya. Nggak heran juga sih kalau cetakannya udah sampai yang kesembilan (versi yang aku baca). #HACEP Lebih dari itu, silahkan baca sendiri, nggak nyesel juga sih, karena ★★★★ untuk buku ini.  

Well, ada banyak kutipan menarik yang bisa diabadikan, beberapa diantaranya:
1. Masing-masing orang memiliki cara yang berbeda dalam menyiasati kehilangan. Kehilangan karena patah hati masih lebih baik daripada kehilangan orang yang disayangi akibat kematian, menurutku, karena pada kasus yang kedua kita tidak mampu melihat orang itu lagi. Seberapa ingin pun kita ingin menggapai dan mendengar suara mereka lagi, hal itu tidak akan pernah terjadi. Orang-orang yang ditinggalkan juga lebih menyedihkan, karena mereka tidak bisa berbuat apa-apa. (hal. 157)
2. Aku menyesal menjadi seorang pengecut yang melarikan diri, yang tidak bisa mengakui perasaannya sendiri, lalu melukai orang lain yang mencintainya dengan tulus. (hal. 163)
3. “Menurutku pemandangan langit dan laut di pagi hari adalah yang paling indah. Para nelayan berangkat untuk melaut, embun pagi menetes melalui sudut-sudut daun, dan langit perlahan-lahan berubah cerah, seakan menyimbolkan harapan baru.” (hal. 184)
4. Tapi, kami sama-sama tahu, manusia yang telah ditinggalkan dan kehilangan tidak akan pernah merasa sama lagi. (hal. 208)
5. “Kehilangan memiliki cara tersendiri untuk mengubah orang-orang yang mengalaminya, tapi melarikan diri tidak pernah menyelesaikan apa-apa.” (hal. 252)
6. “... Tapi, sesulit apa pun, hidup harus terus berjalan. Hidup tidak punya waktu untuk menunggu orang-orang yang tidak siap melanjutkan sisa kehidupannya.” (hal. 253)
7. “Cinta seperti sesuatu yang mengendap-endap di belakangmu. Suatu saat, tiba-tiba, kau baru sadar cinta menyergapmu tanpa peringatan.” (hal. 104)
8. “Masa-masa sulit selalu membuat kita ingin menyerah. Tapi, kau hanya perlu percaya bahwa segalanya akan baik-baik saja.” (hal. 144)
9. “... Aku harus melindungi apa yang kupunya sekarang. Apa yang tersisa, apa yang berharga –aku tidak bisa mengabaikannya, dan aku harus bangkit menjaganya.” (hal. 153)

Dan terakhir, mengingat salah satu kalimat di halaman 117 ini, “Aku hanya mencintainya, dengan caraku sendiri.” rasanya kembali terkenang dengan puisi yang pernah dibuatkan seseorang;
Aku mencintaimu tak peduli betapa cepat waktu mengejarku
Aku mencintaimu seperti edelweis yang rela jiwa-jiwanya pergi hanya karena tidak ada cara lain untuk mencintaimu
Aku mencintaimu… bahkan hingga kelopak mataku tertutup selamanya, rasa ini akan tetap bersinar di ujung jagat raya

[Book Review] Little Bee by Chris Cleave


“Aku selalu bicara jujur dan kau tidak mendengarkan.” (hal. 171)
Judul: Little Bee
Penulis: Chris Cleave
Penerbit: GagasMedia
Tebal: 398 hlm
ISBN: 979-780-524-7
Harga: Rp55.000,-
Blurb...
Kami tidak ingin memberi tahu Anda APA YANG TERJADI di dalam buku ini. Karena KISAHNYA BEGITU ISTIMEWA dan kami tidak ingin merusak kenikmatan Anda membaca. MESKI BEGITU, Anda perlu tahu sedikit untuk mau membeli¬nya, jadi inilah yang akan kami katakan: Ini adalah kisah dua orang perempuan. Kehidupan mereka bersilang jalan suatu hari, dan salah seorang dari me¬reka harus membuat pilihan yang mengerikan, jenis pilihan yang kami harap tidak akan pernah Anda hadapi. Dua tahun kemudian, mereka bertemu kembali–dan kisahnya dimulai dari sini…
Setelah Anda membacanya, Anda pasti ingin mem¬beri tahu teman Anda tentang kisah ini. Ketika Anda menceritakannya, tolong jangan beri tahu mereka apa yang terjadi. Keajaiban kisah ini terletak pada bagaimana ia terkuak. Pujian untuk Little Bee Diterbitkan di Inggris dengan judul The Other Hand “Ambisius dan tidak kenal takut.” The GuardianLuar biasa kuat dan indah.” The Daily Mail “Sebuah karya seni yang kuat… mengejutkan, menggairahkan, dan sangat mengaduk emosi… istimewa.” The Independent “Hangat, cerdas, dan ditulis dengan indah.” The Sunday Tribune

Thoughts...
Little Bee, yang sebelumnya diterbitkan di Inggris dengan judul The Other Hand ini bener-bener ‘buku baru’ yang aku baca. Entah apa yang menjadikannya beda, tapi ini lain dari buku-buku terjemahan yang sebelumnya pernah aku baca. Dapat buku ini dari giveaway nya Kak Nana di blognya, awalnya dari tumpukan buku yang ada ingin memilih This Lullaby, tapi aku tahu itu bakal diambil haknya sama Kak Maya, jadi daripada berebut dan aku bisa tepar baca buku setebal This Lullaby, maka pilih Little Bee saja *pssst, karena penerbitnya juga dari GagasMedia, xoxo*.

“Lakukan,” katanya. “Cepat potong. Berikan aku jarimu dan akan kuberikan gadis-gadis itu.”
Hening yang lama.
“Bagaimana jika tidak kulakukan?”
“Kalau begitu kau boleh pergi. Namun sebelumnya kau harus mendengar suara yang dibuat anak-anak ini saat sekarat. Kau pernah dengar seorang gadis mati perlahan-lahan?”
“Tidak.”
Bukunya syerem, ngeri dan mencekam... tapi plis jangan samakan dengan buku horor apalagi misteri, karena ini semacam... err apa ya.. semacam buku yang ‘benar-benar nyata’ yang menceritakan hal-hal yang mungkin kita sama sekali nggak pernah tahu dan nggak pernah memikirkannya. Cerita-cerita sedihnya bikin keblenger sendiri, ada rasa ketidak-adilan hidup dan keserakahan manusia dalam lingkup yang lebih luas, bangsa-bangsa di dunia.
Little Bee ini sebenarnya adalah nama dari tokoh kita, seorang gadis remaja imigran illegal asal Nigeria. Lil Bee *singkatnya*, mendekam di pusat tahanan imigrasi dekat kota London, Black Hill Imigration Removal Centre. Ia bisa bebas atas usaha bersama teman satu tahanannya, Yvette, dan dua gadis lainnya.
para-pria-datang-dan-mereka-
membakar-desa-kami-
mengikat-gadis-gadis-kami-
memperkosa-gadis-gadis-kami-
membawa-gadis-gadis-kami-
memukuli-suamiku-
memotong-dadaku-
aku-lari-
melewati-belantara-
menemukan-sebuah-kapal-
menyeberangi-lautan-
lalu-mereka-menempatkanku-di-sini.
Little Bee hanya punya satu tujuan yang ingin didatanginya di kota London. Andrew O’Rourke dan istrinya, Sarah, yang ia ingat mempunyai alamat di Kingston-upon-Thames, di wilayah Surrey. Pasangan yang dipertemukan oleh nasib dengan Little Bee dan kakaknya –Nkiruka– dua tahun yang lalu, di suatu pantai di Nigeria. Sesaat sebelum suatu hal yang mencengkram diri Little Bee untuk waktu yang lama.
Little Bee datang sesaat sebelum pemakaman seseorang yang ia tuju. Mereka mengira bahwa Little Bee sudah mati. Dalam situasi demikian, Little Bee diajak ke sebuah pemakaman orang tersebut.

Hidupku memasuki spiral menurun yang hebat, Trisha. Aku tak bisa membayangkan melalui hari tanpanya. (hal. 126)
Cerita ini diceritakan dari dua sudut pandang, Little Bee dan Sarah. Semua berpusat di ‘kejadian dua tahun yang lalu’. Jujur sih lebih suka dilihat dari sisi seorang Little Bee, lebih terasa aura horornya, sedihnya, dan rasa... syerem-nya *syerem pake Y*. Hal-hal yang terjadi di Nigeria yang diceritakan Little Bee, adalah banyak hal yang benar-benar nggak bisa diterima saking mengerikannya. Takut!
Bacanya agak lama semenjak Kak Nana kirim bukunya, dan mendarat di sore hari dianter sama Pak JNE, kangen juga udah semingguan nggak datang ke rumah. Agak susah menafsirkan bukunya karena, sekali lagi, ini buku terjemahan yang benar-benar beda dan baru aku baca. Apalagi, tipe anak SMA labil kayak gini biasanya kan sukanya sama cerita yang menye-menye, contohnya saat menawarkan kepada salah satu teman, ditolak duluan sebelum ditawarkan. Mungkin.., bakal terasa ngeh setelah baca secara keseluruhan dan kalau bisa sih sekali duduk, biar nyambung juga.
Tadinya mau kasih ★★ saja, tapi mengingat bukunya punya tema yang beda, jadi ingat pernah ingin bercita-cita menjadi Duta Besar, membela perdamaian dan menjaga persatuan dunia, atau setidaknya bisa menjadi salah satu bagian dari orang-orang yang mempunyai kedudukan di Perserikatan Bangsa-Bangsa, menjadi seperti Ban Ki Moon. Maka... ★★★ untuk buku ini, dan andai Chris Cleave bisa ngasih ending yang lebih greget, bukan nggak mungkin aku bisa kasih 4 atau 5 bintang. Dan ya.. semua tergantung kamu juga sih, mungkin saat itu mood aku sedang tidak bagus, jadi mempengaruhi ‘rasa’ membacanya juga, tapi ini recommended banget buat pembaca yang senang dengan kisah ‘dark’.
“Bila wajah kalian bengkak karena baru saja dipukuli dengan keras oleh hidup ini, tersenyumlah dan berpura-puralah menjadi orang gemuk.” -Pepatah Nigeria-
Cek juga edisi Little Bee lainnya di GoodReads, disini
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
a book blog by @asysyifaahs